WAKTU TIDAK MENYEMBUHKAN, TAPI SEMBUH SELALU BUTUH WAKTU

 

Kalau ada yang bilang padamu ‘jangan berlarut-larut dalam kesedihan’ saat kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidup, atau minimalnya saat kau sedang patah hati, menurutku itu salah satu kata-kata perintah yang boleh tidak didengarkan. Sebab, tidak ada orang lain yang benar-benar mengerti kesedihan yang tidak ia rasakan sendiri.

Menangislah, yang banyak. Sebanyak kesedihan mengambil bahagiamu itu. Menangislah, saat kau mau menangis. Jangan menahannya hanya karena tidak mau merasa lemah pada diri sendiri.  Kalau dalam keadaan sendiri saja kita tidak bisa jujur, lalu harus dengan siapa lagi semua perasaan itu dibagi?

Aku memberi diriku waktu hampir 3 tahun untuk menghabiskan rasa sedihnya, karena bagiku menangis adalah proses menerima sebuah rasa sakit, rasa kecewa, rasa kehilangan. ia adalah cara untuk kembali menata apa yang sedang berantakan.

Aku menangis saat aku mau menangis, aku menangis saat kesedihan itu kembali melukaiku saat aku mengingatnya, aku menangis dan tidak membiarkan diriku terlihat baik-baik saja karena memang tidak ada yang baik-baik saja saat menangis. 

Aku menangis, dan kembali lagi pada diriku yang lama tertinggal dirumah orang lain. Dirumah yang kuberi hampir seluruh isi rumahku. Ya, hampir semua kupindahkan, bukan cuma membuka pintu tetapi juga membawa kebiasaan, rasa percaya, rasa aman, mungkin juga caraku melihat diriku sendiri. Dan aku dikecewakan sebagai imbalannya. Jadi menangis bagiku juga seperti cara mengembalikan diri beserta kewarasannya.

Mungkin bagi orang lain banyak hal yang sia-sia kita lakukan karena terus bersedih dan menangis. Banyak dari mereka menyuruh melanjutkan hidup dengan hal-hal yang lebih baik dan pantas kita lakukan. 

Mereka nggak salah, mereka hanya tidak tau seberapa melelahkannya melanjutkan hidup yang berdampingan dengan rasa kecewa setiap harinya. Hidup terus berlanjut kok, tapi orang sedih nggak bisa lihai pura-pura bahagia. Kita hanya sedang memilih cara sembuh dengan meluapkannya lewat menangis, bukan mau menyia-nyiakan waktu.

Lagi pula, kesedihan itu tidak selalu datang dalam bentuk yang sama. Ada hari ketika kita menangis karena kehilangan seseorang. Ada hari ketika kita menangis karena baru memahami apa yang telah kita korbankan demi mempertahankannya. Ada juga hari ketika kita menangis karena sadar bahwa kita ternyata sudah berhasil melewati kehilangan dan kesedihan yang kemarin terasa begitu berat.

Tiga tahun, ternyata semuanya lewat. Walaupun berat dan melelahkan, dengan jujur pada diri sendiri, ternyata kita bisa mengembalikan diri kita lagi. Lukanya mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Rasa kehilangannya pun bisa jadi tidak akan pernah terisi lagi. Semua proses itu hanya mengganti rasa sedihnya dengan sebuah penerimaan.

Kurasa, menggunakan sebanyak waktu yang kita punya untuk mengakui dan menerima rasa sakit itu lebih baik daripada memaksa diri terlihat pulih dan baik-baik saja demi kenyamanan orang lain. Sebab, kalau waktu saja memberi kita ruang untuk menjalani kesedihan sampai akhirnya mampu menerima kenyataan yang sebelumnya terasa mustahil diterima, mengapa orang lain merasa berhak menentukan kapan kita harus selesai bersedih?

 

 


Tangerang Selatan,

Bersama Perayaan 75 Tahun Presiden

Comments

Popular Posts