AKU MAU BELAJAR SEMBUH

Kau tahu? Aku tidak pernah merasa terlalu lemah untuk menyembunyikan kesedihan, sebelum tawa-tawa ini kau renggut habis. Aku, sepi dalam kesedihan. Tanpamu..
____________________________________________________

Jauh sebelum mengenalmu, aku terlalu arogan untuk siapapun

Bagiku, kesedihan adalah hal yang tak perlu diceritakan terlalu banyak. Aku memang cukup senang dikenal sebagai seorang yang kuat, yang tak banyak beban pikiran, yang menebarkan tawa, yang hangat, yang menyenangkan. 

Tapi ternyata bukan begitu, aku ialah egois. Yang memang tak pernah rela berbagi beban, sebab aku tak pernah mengerti caranya berbagi perasaan. Aku, tak pernah bisa mempercayai siapapun. Sebelum mempercayaimu

Kamu, adalah bahu, telinga, kaki, tangan, dan seluruh kerelaanmu menerima aku yang aku. 

Adalah bahu yang menyembunyikan tangisku, meredakan lelahku, menenangkan amarahku. Adalah telinga, yang amat sabar mengikuti bahagia dan lukaku. Ya, adalah kaki, tangan, yang selalu ada membantuku bangkit. Atau berlari lebih kencang

Aku selalu menikmati tiap tatap dan titipnya rindu saat bertemu, menikmati setiap canda dan marah yang selalu dibagi dua. Mungkin kau tak pernah tau, aku suka didekatmu lama-lama, sebab ada hangat yang tak pernah kupinta. Ada rasa nyaman yang entah apa namanya. 

Bertahun-tahun, aku lupa bahwa ada jeda dari semua temu. Entah kapan, aku memang tak ingin mengingatnya. 

Tapi kini aku merasakan, menjeda pertemuan yang sangat lama. 
Merasakan perpisahan tanpa pernah berucap 'selamat tinggal'
Merasakan, betapa sakitnya punya luka kehilangan, bahkan saat aku belum bersiap menerimanya

Kamu, wahai seseorang diseberang waktu, kuharap sampai tiap bait doa-doaku. Tuhan baik, sebab ia tau ada kemungkinan yang lebih sakit dari dipisahkan oleh takdir. Percayalah, aku disini sedang berusaha sembuh. Walau ikhlas rasanya semakin mustahil, aku akan mencobanya.

Rasanya, berteman dengan luka adalah pilihan. Dan aku mulai terbiasanya dengan itu

Kamu tidak usah khawatir..
Meski mimpi-mimpiku masih kamu, meski tak jarang masih merasa dekat, merasa ada, aku akan belajar untuk sembuh. Aku janji, suatu hari nanti kita akan bertemu tanpa ada air mata

Aku cuma butuh waktu untuk menyusun kembali puzzle kita yang baru, mengumpulkan kembali puisi-puisi tentang hari terbaik yang telah dan akan kita lalui lagi

Aku cuma butuh waktu, untuk menerjemahkan pesan Tuhan yang dititip lewat kepergianmu

Aku janji, aku akan sembuh. Aku janji..




Dipemberhentian kereta, sebuah akhir perjalanan
Untuk perasaan yang tak bisa tersampaikan

Comments

Popular Posts