Andai Aku Mengenalmu Sebagai Orang Lain
Tuhan menciptakan rencana yang entah aku pernah memintanya atau tidak.
Bertemu denganmu adalah rencana Tuhan paling
indah, sampai hari ini. Tuhan mempertemukan kita mungkin dalam keadaan kita
yang paling baik dimata masing-masing. Akan tetapi, Tuhan mengenalkan kita
sebagai aku, dan sebagai kamu.
Sebagian orang dan mungkin kita sendiri, seringkali terlalu banyak berusaha menjadi baik dihadapan orang lain.
Hingga topeng-topeng itu merenggut kebahagiaan kita untuk menjadi apa adanya,
menjadi diri kita yang bukan terbaik dimata orang lain.
Andai, saat itu Tuhan mengenalkanku
padamu layaknya orang lain mengenalku, atau mengenalkanmu layaknya orang
mengenalmu, rasanya kita tidak akan bisa saling menertawakan kebodohan yang
kita buat sendiri. Tidak akan ada, candaan-candaan nyeleneh yang terlontar tanpa menyisakan sakit hati.
Andai, saat itu aku mengenalmu
sebagai orang lain, tidak akan ada telinga sesabar dirimu yang mampu
mendengarkanku. Tidak akan ada rumah yang selalu menerima kepulanganku dengan
segala keadaan terjujurku, entah baik entah buruk.
Ya, tidak akan ada nasihat-nasihat
sekeras nasihatmu yang mampu aku terima dengan penuh gembira, sebab hanya
hatimu yang lapang dan tak bosan mengingatkan salahku.
Saat itu, jika Tuhan memperkenalkanmu sebagai orang lain, bisa jadi kamu juga tidak akan mengenal aku yang sebagai aku.
Kamu akan mengenalku, seperti banyak orang mengenalku. Dan kita, tidak
akan pernah melampaui perjalanan yang sejauh ini.
Diluar sana aku bisa terlihat kuat. Namun didepanmu, aku bisa jadi tak berdaya apa-apa.
Diluar sana, kamu bisa terlihat
hebat, berwibawa dan penuh karisma. Tapi dalam tawa-tawa kita, dirimu adalah
kuda-kuda yang kelelahan selepas bekerja.
Tuhan membuat kita mengenal dalam ratusan cerita dengan bahagia dan sedihnya.
Cerita-cerita itu telah kita dengarkan
bersama, melalui sepasang telinga yang berusaha sama-sama bersabar dan
berlapang dada.
Penghujung tahun, diatas kereta


Comments
Post a Comment