AKU SELALU CINTA, MESKI TAK PERNAH BERENCANA JATUH
Sebetulnya bukan aku yang menemukanmu, atau kamu yang menemukanku. Tapi takdir yang menuntun kita bertemu. Meski perlu waktu menyadarkanku tentang pentingnya dirimu, tentang sulitnya melupakanmu, juga tentang kembali yang tak perlu punya alasan, ketahuilah bahwa aku tidak pernah menyesali pertemuan kita. sedikitpun.
Walaupun saat itu memang aku pernah terlalu takut menatapmu, berbicara denganmu, atau sekedar berkabar kalau aku baik-baik saja, bukan berarti aku menyesal. Aku hanya sedang tidak siap, pada kenyataan setelah aku berani menatapmu.
Namun lagi-lagi takdir terlalu baik pada kita, entah kau ingat atau tidak, tapi suatu waktu kita pernah terjebak dalam bahagia dan sakit yang sama. Itu menjadi pertama kalinya kita sama-sama percaya diri untuk saling menatap. Juga sama-sama memberi kepercayaan untuk bisa selalu bersama-sama.
Kau tau? Jika seorang penyair mengatakan bahwa cinta itu dari mata turun kehati, sepertinya kami tak sependapat. Tapi jika tak ada jawaban untuk pertanyaan darimana datangnya cinta, aku dengan sukarela bersepakat. Sebab, aku memang selalu cinta meski tanpa jatuh, dan selalu ingin pulang meski tanpa punya alasan.
Aku tak lagi peduli ketika banyak orang membicarakan kita yang hanya penuh kepentingan, atau hanya mencari saat membutuhkan.
Karena kenyataannya kepentinganlah yang selama ini membuat kita saling membutuhkan. Kepentingan yang selalu mempertemukan, selalu menyatukan. Kepentinganpun memang selalu kita buat-buat untuk sekedar bisa sama-sama pulang. Pulang ke meja makan yang menyembunyikan tangis-tangis kita.
Ya, meja makan yang kerap kali menjadi rumah, saat sedih dan bahagia. Disana kita saling berbagi tawa juga air mata. Dimeja kita, memang tak pernah ada hidangan mewah. Namun nasihat, perhatian, kasih sayang membuat kesederhanaan santap menjadi hidangan nikmat. Hingga kehangatan adalah kepentingan bagi siapa saja untuk pulang.
Semoga setiap jatuh yang cinta, bukan hanya sebatas puisi-puisi yang menyentuh hati, sebab ia adalah palsu.
Aku selalu belajar mencintaimu dengan doa-doa yang menembus arsy, dengan dzikir yang membuat malaikat menangis. Aku belajar, mencintai seperti istri seorang hanzhalah, yang mempercayakan penuh kecintaannya hanya dalam perlindungan Allah ta'ala.
Bogor, 15
Ramadhan 1441 H
Untuk pulang
yang tak perlu alasan, Red Soldier 2016


Comments
Post a Comment