TIDAK SEMUA ANAK IDEOLOGIS LAHIR DARI ANAK BIOLOGIS
Ada pepatah bilang; buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi nyatanya tidak semua buah jatuh terlalu dekat dengan pohonnya. Sebab tanah memang terlalu luas untuk dipijak bersamaan.
_____________________________
Qurratu a’yun (sedap dipandang
mata), bidh’atun minhu (belahan
jiwa), tsamratul qalb (buah
hati), kupu-kupu surga, rizqun
minallah (anugerah dari Allah), atau zinatul hayatit dunya (perhiasan kehidupan dunia) merupakan Indahnya
istilah anak yang dilukiskan di dalam Al-Quran dan As Sunnah. Istilah tersebut
menggambarkan dan mengajarkan kepada kita betapa mendalam hubungan batin antara
orang tua dan anak.
Bagi umumnya orang
tua, memiliki seorang anak dengan pilihan afiliasi pemikiran yang serupa pilihan
orang tuanya adalah harapan. Tetapi bukan
fenomena tabu atau hal yang sepertinya jadi ‘harus’, sedikit yang ku tau begitu..
Namun bagi
sebagian lainnya, fenomena umum yang sangat biasa kita temui itu persoalannya
memiliki makna yang berbeda. Umumnya pegiat dakwah atau ‘kader’ sapaan akrabnya,
merupakan cita-cita, anak akan mewarisi ideologi yang diperjuangkannya. Tak sedikit
anak biologis dianggap menjadi sosok paling tepat untuk meneruskan perjungan karena paling memahami karakter orang tuanya, sehingga
persoalan pilihan afiliasi pemikiran yang berbeda dengan pilihan orang tuanya seringkali
berkonotasi negative.
Ada pepatah bilang; buah jatuh tidak jauh
dari pohonnya, tapi nyatanya tidak semua buah jatuh terlalu dekat dengan
pohonnya. Sebab tanah memang terlalu luas untuk dipijak bersamaan.
Sebagai anak
yang mungkin sedang berada dalam situasi ini, kita perlu jujur bahwa keadaan
ini adalah keadaan memuakkan yang juga tidak pernah kita inginkan. Kita tidak
pernah ingin dilabeli anak berdarah biru sebab asal-usul orang tua kita, sebab
pemikiran mereka, sebab afiliasi mereka pada A atau B. Bagaimana kita esok, sebetulnya
sebagai anak hanya ingin lahir dari keputusan-keputusan yang dipahami dengan benar.
Toh, mungkin selama ini pilihan
pemikiran yang berbeda, tidak mesti berseberangan total. Kadang masih dalam
spektrum keislaman bahkan masih dalam rumpum ideologi yang sama. Hanya saja
berbeda dalam pilihan model perjuangan sehingga nampak ‘berbeda’.
Akan tetapi,
anak biologis tidak serta merta adalah anak ideologis. Atau gampangnya, tidak
semua anak ideologis lahir dari anak biologis. Karena jika dahulu para orang
tua tumbuh dalam iklim represif, feodal, apatisme politik, penyeragaman,
tradisionalisme; membuat kader umumnya menemukan pencerahan dalam ideologi
dakwah. Materi keislaman yang didapatkan secara gradual setiap pekan, menjadi
katalisator untuk transformasi diri. Serta ide yang diyakini menjadi tema
perjuangan dan perubahan di lokasi sosial mereka tumbuh, akan berbeda dengan
situasi anak.
Situasi
anak-anak kader berbeda; mereka mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik
dari orang tua mereka (bahkan dengam standar yang cukup tinggi), iklim
demokrasi dalam lingkungan sosial-politik, banjir informasi melalui teknologi,
pendidikan yang lebih terbuka, dan juga pertembungan ide-ide di level pemikiran
yang dapat diakses secara formal dalam studi maupun informal dalam beragam
bentuk diskusi.
Mereka adalah
konsumen dan pelaku bagi Negeri kita yang menjadi pasar bebas bagi ide dan
pemikiran. pelajaran-pelajaran agama yang telah ditanamkan sejak kecil, pun
lingkungan islami yang telah dipersiapkan para kader bagi anak-anaknya mampu
mentransformasi pribadi mereka. Sehingga transformasi berjalan secara natural,
formal, melalui saluran akademik. Tidak ada ditemukan istilah
hijrah, sebagaimana orang tua mereka dulu memaknai perubahan mereka.
Maka jangan
heran jika sebagian anak-anak dari para kader memaknai pemahaman yang ‘dicekoki’
tadi dengan jalan yang mungkin terlihat berbeda dengan orang tuanya. Percayalah,
mereka bukan nakal, bukan pembangkang ataupun pemberontak yang pantas dikenai
sanksi sosial dalam masyarakat yang
katanya homogen itu.
Mereka hanya
ingin menemukan alasan mengapa harus
menjadi anak ideologis setelah jadi anak biologis? dengan sendirinya, tanpa selalu mengekor
prinsip orang tua. Tanpa perlu bertittle
anak darah biru.
Mereka hanya
ingin merdeka dengan segala sikap, keputusan, dan konsekuensinya..
Bogor, 2 pekan sebelum Ramadhan

Comments
Post a Comment