YANG TERBACA, DAN YANG BELUM SELESAI DIBACA
Yang terbaca, adalah aku yang aku, kamu yang kamu, dan kita yang adalah
orang lain. Namun ada hati yang belum selesai dibaca. Ialah aku yang jujur,
atau aku yang bohong.
Hari kemarin, kupikir aku sudah
selesai. Dengan aku yang aku, kamu yang kamu, dan kita yang adalah orang lain. Aku
pikir aku sudah terlalu jujur untuk menghabiskan pagi yang pagi, siang yang
siang, dan malamnya malam dengan mengeja semua tentangmu, tentang kita. Ya,
kupikir begitu..
Tapi entah mengapa
pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa aku
harus khawatir?
tentang mengapa aku harus sedih?
tentang mengapa aku harus berat melepasmu?
Bahkan tentang siapa aku bagimu?
Bahkan tentang siapa aku bagimu?
Seperti
tidak berujung dengan jawab yang coba kubaca kemarin. Dan bahkan semesta
bersepakat, kalau aku sedang tidak jujur. Aku berbohong.
Sebenarnya aku memang terlalu
bodoh untuk mengerti mengapa kau seperti terlalu suka meninggalkan bayangan
dibenakku, selalu senang menari-nari dalam ruang sempit yang bahkan tidak
pernah sengaja disediakan untukmu.
Kau, tamu yang tak pernah
permisi. Datang lalu pergi, lalu kembali lagi. Membuatku seolah tak pernah usai
menyelesaikan membaca tentangmu,
tentang kita.
Seperti malam-malam lalu, tiba-tiba saja kau
kembali dengan kisah petualangan yang kau bawa dari tepi-tepi dunia barumu. Kau
ceritakan cerita-cerita yang pahit itu, yang sedih itu, yang menyebalkan itu,
dan menjadikanku pendengarmu lagi. Aku memang selalu senang menjadi pendengar,
tapi tidak untuk mengingatmu. Sebab mendengarkanmu adalah pekerjaan menata hati
paling sulit.
Kemarin, mungkin aku hanya
sedang cemburu pada orang lain yang akan membersamai petualangan
barumu, tanpa aku. Tapi entah hari ini, entah esok, entah lusa. Aku tak tahu..
Jakarta,
Diantara waktu dzuhur dan ashar


Comments
Post a Comment