Satu dari seribu, kenapa harus kamu?



Satu dari seribu, kenapa harus kamu
Satu dari seribu, sepertinya memang kamu 

Akhir-akhir ini, hampir semua puisi tak lagi terbaca indah dimataku. Banyak karyanya menguras kebahagiaanku atau menelan tawaku. Namun ada satu kata yang membangkitkan rasa ingin tahuku, k-i-t-a.

Yang ku tau, kita adalah kata yang tidak pernah kuhadirkan dalam doa, tidak pernah terfikir bahkan. Bagiku, menemukanmu dalam kita adalah ujian yang dikirim Tuhan melalui banyaknya rangkaian cerita. Yang sampai sekarang tak ku mengerti muaranya.

Mengenalmu begitu saja, memahamimu begitu saja, sedingin itu perjalanan kita. Aku yakin kita sama-sama tidak pernah tau kapan pastinya saling mengingat nama, saling sapa, dan saling punya kepentingan untuk memulai obrolan. Atau juga tak ingat kapan terpaksa mulai belajar mamahami sampai diam-diam mengerti. Ya, aku sih tak tau. Kamu? kayaknya sama..

Masa lalu selalu membentengiku menyebut ‘kita’ dalam setiap perjalanan yang telah terlewati. Aku tetap aku, kamu tetap kamu. Kita adalah orang lain. Tapi, apa kita yakin hati kita terlalu sadar untuk mencintai hanya satu hati? hmm.. tiba-tiba aku nggak punya jawaban.

Berhari-hari aku kehilangan pagi yang pagi, siang yang siang, dan malamnya malam. Sunyi tiba-tiba memenjarakan ramaiku, begitu juga dengan keramaian yang tiba-tiba mengusik sunyiku. terlalu abstrak untuk dirasa, terlalu rumit untuk diurai, namun tetap kuterjemahkan satu persatu. Semua tentang kita yang ternyata mengganggu pikiranku.

Aku bertanya tentang mengapa aku harus khawatir?
Aku bertanya tentang mengapa aku harus sedih?
Aku bertanya tentang mengapa aku harus berat melepasmu?
Bahkan aku bertanya tentang siapa aku bagimu?
ya, semuanya ku terjemahkan satu-satu, seorang diri. hanya aku dan pikiranku, atau hanya aku dan kata hatiku. 

Sekarang aku mengerti, dan menerima. Bahwa satu dari seribu kenapa harus kamu, satu dari seribu sepertinya memang kamu. Semuanya berlalu begitu saja, sedingin penolakan-penolakan aku padamu tentang kita, tentang kata-kata semua orang yang ‘jail’ menjadikan kita sebagai istilah aku dan kamu. 

Aku mengerti, bahwa kita memanglah orang lain. Aku tetap aku, dan kamu tetap kamu. kita memang tidak bisa yakin hati kita terlalu sadar untuk mencintai hanya satu hati, tapi aku yakin itu bukan berlaku untukmu dan aku. Aku hanya takut kehilangan sosokmu, dan semua momen yang pahit itu, atau yang manis itu. 

Mungkin aku hanya sedang cemburu pada orang lain yang akan membersamai petualangan barumu, tanpa aku.  

Bogor, dipenghujung Januari

Comments

Post a Comment

Popular Posts