Kekuasaan, Politik, dan Kodrat Pelayan Umat
Sebelum berbicara tentang kekuasaan, politik dan kodrat
pelayan umat, saya masih tertarik untuk kembali mengingat peristiwa heboh
diawal bulan ini. Tentang seorang Zaadit Taqwa yang begitu 'sok' heroik
meng-ultimatum pemimpin --seorang yang paling berkuasa-- di negaranya dengan
lelucon peluit dan kartu kuning bak seorang wasit sepak bola. Bahkan ada yang
menuliskan seperti peniup sangkakala yang suaranya menggelegar membangunkan
mayat-mayat yang tertidur. Bukan hanya mayat pemerintahan, tapi juga
mayat-mayat dibalik balutan almamater kampus.
Bagi saya, yang menarik bukan soal kenapa Zaadit sok berani
seperti jagoan disiang bolong. Namun yang menarik adalah, seburuk apakah
pemimpin negeri ini sampai seorang bocah selevel Zaadit menggadaikan
keberaniannya untuk 'berguyon' menarik simpati, demi sebuah aspirasi.
Sebegitu seringnya-kah suara-suara dibungkam hingga tak lagi
terdengar? Dimana pula letak keadilan dan kebijaksanaan seorang pemimpin yang
terkesan acuh tak mau mendengar aspirasi rakyatnya? Padahal setiap dari kita
diberi sepasang telinga oleh Tuhan, yang berarti kita memang disetting untuk
lebih banyak mendengar. Namun jika sampai hari ini nyatanya penguasa yang
bertahta selalu saja sulit mendengar, maka pada kekuasaan mana lagi kita harus
berbicara?
Tentang kekuasaan, Robert Mac Iver mengatakan bahwa ia
adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara
langsung dengan memberi perintah atau dengan tidak langsung, yaitu dengan jalan
menggunakan semua alat dan cara yang tersedia
Sejenak, jika berbicara kekuasaan, maka tidak jarang kita
mengidentikannya dengan politik. Mungkin bagi sebagian orang, tidak semua
kekuasaan adalah politik. Namun bukan berarti politik adalah bukan soal
kekuasaan.
Dalam pidatonya, Hasan Al-Banna memaparkan bahwasannya
politik memiliki 2 sisi : Internal dan Eksternal. Sisi internal disini adalah
sisi yang mengurus tentang berbagai
persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi, merinci kewajiban dan
hak-haknya, serta melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian
dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, dan dikritik jika mereka melakukan
kekeliruan.
Sedangkan sisi eksternal politik adalah soal bagaimana
memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, tentang mencapai tujuan serta
mendapat kedudukan yang setara dengan yang lainnya, serta terbebas dari
penindas dan intervensi pihak lain dalam berbagai urusan.
Antara politik dan kekuasaan memang tidak selalu harus
dikait-kaitkan. Namun keduanya memang punya hubungan kedekatan. Politik adalah
kendaraan untuk mendapatkan kedudukan. Dan kedudukan merupakan salah satu
sumber kekuasaan.
Secara bahasa, politik berasal dari kata politikos yang
berarti proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat, yang
berwujud proses pembuatan keputusan. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), politik adalah segala urusan dan tindakan, baik itu tentang kebijakan,
siasat, serta cara bertindak untuk
menghadapi masalah.
Sampai sini, boleh dibilang kalau semua kekuasaan itu
termasuk politik. Karena dalam kekuasaan tidak jauh dari bagaimana seseorang
membuat kebijakan, kemudian menentukan siasat pelaksanaan maupun siasat
pegorganisasian, serta bagaimana cara bertindak dan megambil sikap jika terjadi
masalah tertentu.
Dewasa kini, tak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit
masyarakat yang beranggapan bahwa politik itu sebagai sesuatu hal yang 'kotor'.
Anggapan masyarakat pada umumnya ini identik dengan eksploitasi, kesewenangan,
korupsi, dan memperkaya diri sendiri. Padahal itu hanyalah oknum yang kemudian
mencemari pemahaman politik rabbani menjadi pemahaman politik jahili.
Karena politik sebagai alat kekuasaan sebenarnya bersifat
netral. Tergantung oleh siapa politik itu dipegang. Ketika politik berada pada
orang yang dadanya sesak dipenuhi nafsu duniawi serta matanya gelap akan
gemerlap nikmat harta dan tahta maka sesuatu yang 'kotor' akan menjadi
identitas. Akan tetapi ketika politik berada pada orang yang dekat dengan Tuhan
maka selayaknya politik berubah menjadi rahmat bagi alam semesta.
Setiap manusia sejak lahir sejatinya ia telah dibebankan
tugas sebagai seorang utusan, yakni
khalifah (pemimpin) di muka bumi. Pemimpin disini memang dalam cakupan artian
yang sangat luas, namun salah satu jalannya ialah lewat perpolitikan. Karena
darinya ada jalan untuk memiliki kekuasaan memimpin umat.
Bahkan dalam islam, berpolitik adalah bagian dari jihad yang
bernilai tinggi, sebagaimana suatu ketika Rasulullah ditanya : " Ya
Rasulullah, jihad apakah yang paling utama?" Dan beliau menjawab, "jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran didepan penguasa
yang jahat"
Tapi perlu sama-sama kita garis bawahi, bahwasannya
kekuasaan politik bukanlah sebuah kehormatan (atau sebaliknya kenistaan).
Melainkan adalah amanah yang perlu dijalankan dengan rasa tanggung jawab.
Tanggung jawab untuk membawa masyarakat kearah kebenaran, kesejahteraan, dan
keadilan. Karena setiap tanggung jawab yang diemban akan dipertanggung jawabkan
dihadapan Tuhan. Entah kapan, namun itu adalah keniscayaan.
Terlepas dari soal politik dan kekuasaan yang notabenenya
memiliki hubungan kedekatan, seorang pemimpin yang 'berkuasa' haruslah bersikap
adil dan bijaksana. Siapapun dia. Apalagi untuk ia yang sedang menjadi pemimpin
negara. Segala sikap, kebijakan, hukum, simbolik kehidupan, semua harus adil
sesuai takarannya.
Karena segala persoalan yang menyangkut kepentingan umum
sekarang ini berada sepenuhnya didalam kekuasaan negara. Mulai dari pendidikan,
pengajaran, media massa, sampai kepada kebijakan ideologi, serta perang dan
perdamaian. Maka sesiapapun pemimpinnya ia harus menjalankan amanat dengan
adil.
Kembali belajar dari kasus Zaadit yang diceritakan diawal,
perlu diingat oleh sesiapapun yang sedang memimpin. Dan sangat perlu diingat
untuk pemimpin yang dalam dirinya tengah merasa indah dengan sifat bijaksana,
bahwa seorang pemimpin yang adil dan bijaksana itu adalah ia yang hadir untuk
kemaslahatan seluruh manusia. Bukan yang menutup telinga, dan bilang semua baik-baik saja.
Padahal rakyat nelangsa menjerit meminta iba.
Sungguh, tidak ada kebanggan dari menjadi seorang pemimpin,
karena kodratnya hanyalah sebagai pelayan umat. Seseorang yang akan ditinggikan
derajatnya bila benar-benar menjadikan kekuasaan itu untuk berdedikasi melayani
masyarakat. Dan sebaliknya, derajatnya akan langsung meluncur jatuh menjadi
penjahat-penjahat terbesar saat ia dzolim dan menggunakan kekuasaan untuk
kepentingan diri sendiri.
"Kekuasaan itu pada dasarnya merupakan pengganti dari
pemilik legislasi (Allah) untuk menjaga dan melindungi kepentingan dunia" jelas Ibnu Khaldun.
Oleh karena itu, ketika Tuhan memberi kesempatan untuk
berkuasa, sekecil apapun kekuasaan itu, maka harus disiapkan berbagai agenda
untuk sungguh-sungguh mensejahterakan rakyat. Karena pemerintahan tidak lain
adalah kontrak kerja antara rakyat dan pemimpinnya, untuk memelihara
kepentingan bersama. Dan sumber kekuasaan itu adalah satu, yaitu kehendak
rakyat, kerelaan, dan pilihan mereka secara suka rela.
Maka jangan pernah merasa hebat. Karena kedudukanmu hanya
sebatas pelayan umat, yang pertanggung jawabannya nanti di akhirat. Pilihanmu
hanya dua, husnul khotimah atau su'ul khotimah dalam beramanah. yakni surga
atau neraka, wahai engkau yang sedang berkuasa.
Bogor, 10 Februari 2018

Comments
Post a Comment