Belajar Terdewasakan Dari Sebuah Kepanitiaan
Kisah ini dimulai begitu saja. Sejak pada April lalu seingatku aku terpaksa mengatakan komitmen dengan organisasi ini, inilah kali pertama kontribusiku dalam kepanitiaan. Sebuah kepanitiaan pengkaderan gabungan se-Jakarta Timur. Sebuah kebanggaan bagiku seorang bocah diizinkan bergabung dalam agenda pengkaderan sebuah organisasi ekstra yang namanya nyaring terdengar dari Sabang sampai Merauke
Entah mengapa aku tertarik menuliskan hal ini. Mungkin pengalaman pertama yang (cukup) mengesankan bagiku. Aku yang benar-benar buta dengan sistem dan konsep pengkaderan begitu saja dengan mudahnya dimasukkan di divisi Acara. Memang jail kadept ku yang satu ini, terkadang gemas ingin juga menjahilinya.
Banyak orang-orang hebat disini, pun banyak ide-ide cemerlang para konseptor. Namun entah kesalahan dibagian mana, singergitas dan chamistry belum terbangun menjadi sebuah pondasi kesolidan.
Aku yang cenderung acuh kali ini merasa dituntut untuk peduli. Ya mungkin karena pemula, jadi masih ada rasa semangat. Tapi itulah sebuah pembelajaran. Ketika tameng kepekaanku juga terusik, aku memaksakan diri keluar dari zona nyaman. Bekerja diluar apa yang biasa ku kerjakan. Dari konseptor jadi eksekutor, dari diam kemudian menjadi vocal.
Aku yang cenderung pendiam, tiba-tiba menjadi punya sebuah keberanian untuk bicara. Aku yang terlalu banyak bercanda, untuk kali ini dipaksa bisa mengontrol kadar keseriusanku. Entah ilham yang mana yang kudapatkan. Haha
Lagi-lagi, banyak orang hebat disini. Terlalu banyak orang kuat disini. Sebuah kebanggaan bisa dipertemukan dan mengenal mereka satu persatu. Namun setiap orang mempunyai karakteristik yang berbeda, yang menjadikannya kenangan dalam setiap keunikannya. Dan itu pula salah satu pembelajaran. Tentang bagaimana menyikapi keunikan pada setiap pribadi dengan culture yang masih bisa dibilang heterogen ini.
Bergabung dalam sebuah kepanitiaan pengkaderan menjadi alternatif wadah untuk melakukan banyak observasi. Tentang sikap, perilaku, dan hubungan diantara anggotanya merupakan hal-hal yang menarik perhatianku. Yang pula jarang ditemui ketika posisi kita sedang tidak intens bertemu.
Banyak hal yang didapat, banyak pengalaman yang dijadikan pembelajaran. Rentetan cerita diawal bulan November ini pada akhirnya menyisakan sebuah jawab, bahwasannya tidak ada organisasi yang sempurna. Sehebat apapun organisasi itu, pasti ada celah kecacatan didalamnya. Tinggal bagaimana kita yang ada didalamnya menyikapi hal tersebut dengan terus berusaha melakukan perbaikan.
Keragaman warna dalam tiap anggotanya harusnya bisa dimaksimalkan sebagai pondasi kuat sebuah organisasi. Karena, "Perbedaan jangan dijadikan hal untuk saling menjatuhkan, karena satu perbedaan yang akan membuat kita menemukan banyak kesamaan"
Bogor, 27 November 2017
Serbukan Jasjus

Comments
Post a Comment