Sejauh ini (ternyata) semuanya baik-baik saja

Lagi-lagi masih pada pembahasan yang sama dengan berbulan-bulan yang lalu. Setelah kejadian yang 'memaksa' saya untuk menjatuhkan pilihan disaat kondisi air digelas saya begitu keruh, saya mulai banyak belajar. Mulai berdiam dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin membuat orang-orang mulai jenuh dengannya. Terutama yang sering saya mintai pendapatnya.

Saya mecoba untuk menarik diri sejenak dari keduanya dan  bermain diranah yang lumayan 'asing' bagi saya. Namun, masih memperhatikan keduanya. Dan sejauh ini bagi saya semuanya berjalan baik-baik saja, hubungan kita masih baik terjalin. Dengan yang dekat maupun yang nampak jauh.

Ketakutan saya di waktu itu belum sepenuhnya terbukti, yang penting komunikasi. Banyak orang bilang saya ini abu-abu. Seperti menggantungkan dan tidak tegas memberi kepastian. Wah, mengerikan sekali saya haha..

Sungguh tidak ada niat seperti itu. Sebenarnya sejak usai kejadian simalakama itu, saya menegaskan pada diri saya sendiri bahwa tidak akan memilih keduanya atau merelakan salah satu diantaranya untuk menjadi ketetapan yang mutlak adanya.

Saya memilih menjadi orang diluar keduanya, bermain-main sambil memperhatikan mereka nampaknya lebih mengasyikan bagi saya. Walau terkadang hati kecil ini menyimpan sedikit sesal. Semua nampak baik-baik saja, sampai pada suatu hari saya mendapat pernyataan dari seseorang.

Dan itu menjadi jawaban yang bisa saya terima, jawaban paling logis dari semua misteri yang selama ini saya pertanyakan. Namun karena itu, rasa penasaran saya mulai terusik (lagi), setelah sekian lama saya mencoba untuk tidak mengusili orang dengan pertanyaan. Hanya untuk sekedar memastikan iya atau tidak sebetulnya.

Tapi ah, biarlah. Saya anggap semua ini masih baik-baik saja. Bahkan ketika tiba-tiba ada yg datang (lagi) untuk mengingatkan saya akan suatu hal yang sempat ingin saya lupakan, saya masih menganggapnya baik-baik saja. Walaupun jujur agak sedikit kurang nyaman dirasa.

Saya tidak mau bertanya saya harus bagaimana? karena saya bosan jika harus disebut fase makkah untuk ketiga kalinya. pernyataan dari seseorang tersebut sudah cukup meredam kekepoan saya. tapi saya belum bisa cerita padanya yang sudah dua kali menyebut saya berada dalam fase makkah. mungkin nanti, iya nanti. Semua ini masih terlalu baik-baik saja.


Bogor, 17 Februari 2017
Serbukan Jasjus

Comments

Popular Posts