HARI ITU PANJANG..
Berat saya putuskan, demi Allah ini bukan soal memilih atau dipilih. Bukan soal prioritas atau tidak. Bukan pula soal nyaman atau sebaliknya. Tapi ini soal amanah, bukankah amanah yg telah dibebankan akan dipertanggung jawabkan?
Maqom saya memang masih standar, ya apalah saya yang cuma remahan kerupuk pasir ini..
Tapi bagaimanapun saya, saya tetap sadar amanah adalah segalanya. Tidak ada beban yang lebih berat selain amanah, namun bukan berarti kita tak akan sanggup membawanya. Karena amanah sesungguhnya diletakkan tak pernah salah pundak. Jika amanah telah berpihak pada kita, tinggal masalah bagaimana kita meneguhkannya. Menjaganya agar tidak timpang. Saya sadar, makanya saya putuskan untuk mengambil sikap.
Hari itu panjang, sangat panjang..
Pikiran saya benar2 kacau, pelik. Berlebihan? Iya mungkin jika anda tak berada diposisi saya. Saya menangis, menurut saya wajar. Menangis pada Allah dimana letak salahnya? Toh kita memang selemah2nya makhluk dihadapan-Nya bukan?
Hari itu sungguh sangat panjang.
Hari mulai larut, hingga akhirnya coba kumantapkan diri yang bimbang ini. Memaksanya untuk segera bersikap. Bersikap dengan bijak. Hmmm.. Yah! Pada akhirnya berakhirlah hari itu, hari yang panjang bagi saya.
Namun ketika hari yang panjang itu berakhir, dan hari ini pun juga telah usai, seperti masih ada sesuatu yang menggelayut pada batin. Hati ini tak menemukan kepuasan. Apakah ini yang dinamakan salah langkah? Bukan menyesal. Tapi seperti masih ada kepingan yang hilang..
Iya, hari ini usai. Dengan saya mengerti apa yang dimaksud sistem itu. Mungkin saya bisa mangkir darinya, namun tak bisa berjalan diatas keduanya. Dua hal yang bersahabat, namun tak pernah akrab. Jika yang anda tawarkan adalah bermain pada keduanya, lalu bagaimanakah solusi jika aturan membatasinya? Suatu hari, entah kapan itu waktunya, pasti akan ada gerbang yang ditutup amat rapat untuk sekedar masuk.
"Barang siapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akhirnya". Ini menjadi satu pemantik tersendiri bagi saya hari ini. Maka dari itu saya mencoba berefleksi, mencari kesalahan yang sedang terjadi atas diri ini. Bukan saya ragu akan jalan dakwah ini. Bukan! Hanya bertanya pada diri sendiri, mengapa hari ini usai tanpa adanya kepuasan batin? Atau inikah tanda keberpihakan?
Sungguh, hari yang panjang itu telah berakhir. Dan hari ini juga telah usai..
Jakarta, 03 Desember
Lepas maghrib ditengah minimnya cahaya
Lepas maghrib ditengah minimnya cahaya

Comments
Post a Comment