Kak, gelasku kosong ...

Kak, gelasku kosong..

Begitulah aku ketika mulai memberanikan diri berjalan sendirian di ranah kampus. Melepas tittle sebagai seorang siswa, dan berusaha berdamai dengan sandangan mahasiswa.. Aku bukan tipe orang dengan kepedulian tingkat tinggi, bukan pengamat handal. Aku cenderung cuek bahkan terkadang masa bodo.

Tapi sesuatu mengusikku, mengusik tameng ketidak pekaanku. Tempat ini aneh, ada sesuatu yang memaksa otakku berfikir samakin keras. Sekali lagi aku bukan pengamat handal, tapi sesuatu itu sangat mengusik kepekaanku. Dan gelasku saat itu sangat kosong.

Aku terus berjalan, tidak melawan arus. Kuikuti arahan nahkoda, entah nahkoda yang mana. Mungkin saat itu hingga hari ini aku masih terus berjalan mengenakan kompas perasaan. Iya, aku dinahkodai fikiran dan perasaanku sendiri. Tahukah? Aku juga bukan orang yg pandai memainkan kompas, dan bukan nahkoda yang handal pula. Karena seorang nahkoda handal yang terlahir dari laut yang ganas pun dia telah mendapat banyak pemahaman sebelumnya. Tapi karena tak ada satupun yang bisa kupijakkan dengan pasti. Biar kuberanikan diri mencari pijakan itu sendiri.

Dan aku terus berjalan..
Mulai banyak pertanyaan yang semakin lama semakin menyesakkan fikirku. Memenuhi ruang, membuat jalan pandang jadi remang-remang. Aku butuh kejelasan! Sebelum aku jatuh dan terluka hingga tenggelam dalam ketidakpastian. Saat itu gelasku hampir 1/4 terisi, namun isinya sangat keruh.


" Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat " (QS. Al-Hujurat : 10)

Aku pernah tertarik pada ayat ini. Aku yakin kakak bahkan sudah sangat sering membacanya, namun lupa dengan terjemahannya. Ups! Bukan aku berburuk sangka, hanya mencoba mengimplementasikan dari kata2 yang sering kita dengar, "manusia itu tempatnya lupa dan khilaf".
Keadaan makin mendesak akal sehatku. Aku sudah merasa jenuh membedakan yang sama, dan mencoba mencari kesamaan dari yang berbeda. Kenapa yang beda dianggap sama? Dan yang sama dirasa berbeda? Bingung? Ya begitulah aku, bingung. Masih dengan gelas yang kini setengah terisi namun makin keruh airnya.

Oh iya, Aku juga teringat kembali tentang perjalanan Nabi Musa yang diutus untuk menghadapi si angkuh fir'aun. Dengan kerendahan hati, Musa.As memohon agar Harun.As diutus bersamanya. Untuk meneguhkan kekuatannya, untuk bersekutu dalam kebaikan. Lantas apa lagi yang membuat kita tidak bersatu, bersekutu, berkolaborasi. Sementara musuh2 di luar sana sepakat memusuhi kaum muslim, namun kita masih berkompetisi mencari gelar sang paling baik. Begitukah?

Dan sekarang, kalian memberiku buah simalakama. Aku tidak bisa makan, namun enggan pula membuangnya. Lalu tidak adakah sedikit niat untuk menyelesaikan misteri yang aneh ini? Iya memang, gugur satu tumbuh seribu. Namun sampai kapan tumbuh seribu jika bibitnya saja bingung mencari celah untuk tumbuh?

Kak, gelasku kosong..

Bahkan ketika terisi pun tidak membuat yang remang-remang semakin jelas. Maka apa sebaiknya kutumpahkan saja?



Jakarta, 29 November
Dari aku yang gelasnya kosong dan terusik kepekaannya..

Comments

Post a Comment

Popular Posts